7 Cara Terbaik Mengisi Waktu Luang Dalam Islam

7 Cara Terbaik Mengisi Waktu Luang Dalam Islam

Forum Baca – Setiap orang memiliki urusan dan kesibukannya masing-masing. Namun, ada pula seseorang yang bingung harus melakukan atau bertindak apa dalam hidupnya, hal ini biasa terjadi ketika memiliki waktu luang. Islam mengatur dengan indah bagaimana seorang mukmin berakhlak terhadap dirinya dan sesama muslim lainnya. Termasuk bagaimana ia lebih memperhatikan kehidupan akhiratnya dari pada sibuk dengan melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat.

Terdapat dalil yang menjelaskan mengenai perintah untuk meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat, sebagaimana Hadist berikut ini:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَالَا يَعْنِيْهِ. (حديث حسن رواه الترميذي وغير هكذا)

Abu Hurairah RA. berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Di antara tanda sempurnanya Islam seseorang adalah ia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat.” (Hadist ini hasan, diriwayatkan oleh Tirmidzi dan lainnya).

Terdapat banyak pesan dan makna dari hadist singkat di atas, berikut penjelasannya:

cara-menyibukkan-diri-mengisi-waktu-luang-dengan-hal-yang-bermanfaat

Cara Mengisi Waktu Kosong dengan Hal yang Bermanfaat

1. Membangun masyarakat yang mulia

Islam menghendaki terciptanya kedamaian dalam masyarakat Islam, tidak ada pertentangan dan permusuhan. Islam juga menghendaki kedamaian individu, hidup di dunia dengan kebahagiaan, disayangi dan tidak disakiti, hingga ketika meninggal kelak mendapat kemenangan.

Baca Juga:  TAWAKAL: Cara Paling Ampuh Mengatasi Harapan Yang Tak Sesuai

Perpecahan dan kekacauan yang timbul dimasyarakat biasanya adalah campur tangan terhadap orang lain, terutama masalah yang tidak mendatangkan manfaat baginya. Maka salah satu tanda muslim sejati dan tanda kebenaran iman seseorang adalah sikap tidak campur tangan terhadap orang lain.

2. Menyibukkan diri dengan masalah yang tidak mendatangkan manfaat menandakan lemahnya iman

Dalam kehidupan manusia senantiasa dikelilingi oleh manusia lain. Berbagai kesibukan dan hubungan satu sama lain sangat banyak dan beragam. Maka seorang muslim bertanggung jawab penuh dalam setiap perbuatannya, setiap waktu dan kata yang diucapkannya. Jika seseorang disibukkan dengan berbagai hal yang tidak mendatangkan manfaat, hingga ia meninggalkan kewajiban dan melupakan amanat yang diembannya, maka di dunia ia akan dapat cela dan di akhirat akan disiksa. Hal ini sebagai tanda lemahnya iman yang ada pada dirinya.

3. Menghindari sesuatu yang tidak bermanfaat merupakan jalan keselamatan

Apabila seorang muslim menyadari kewajiban dan tanggung jawabnya, niscaya ia akan menyibukkan diri dengan berbagai hal yang mendatangkan manfaat.

Perlu diketahui bahwa perkara yang bermanfaat lebih sedikit dibanding perkara-perkara yang tidak bermanfaat. Dengan membatasi diri pada perkara yang bermanfaat, niscaya akan terhindar dari keburukan dan dosa sehingga memiliki waktu yang cukup untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi akhiratnya. Hal ini menjadi tanda kesempurnaan Islam dan iman seseorang, ia pun akan mendapatkan tempat yang baik disisi Tuhan.

Rasulullah SAW bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian baik (sempurna) Islamnya, maka setiap kebaikan yang dikerjakan akan dicatat baginya sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat. Dan setiap keburukan yang dilakukan akan dicatat seperti apa yang ia lakukan (tidak dilipat gandakan).” (HR. Bukhari)

4. Sibukkan diri dengan mengingat Allah SWT, niscaya ter jauhkan dari perkara yang tidak bermanfaat

Seorang muslim yang beribadah kepada Allah SWT seolah-olah melihat dan merasakan kedekatan-Nya,  niscaya ia akan menyibukkan diri dengan hal-hal yang mendatangkan manfaat. Dengan demikian ia akan menghindari perkara yang tidak mendatangkan manfaat. Jika mampu melakukan yang demikian adalah sebagai bukti kebenaran imannya kepada Allah SWT. Namun apabila ia tetap melakukan berbagai hal yang tidak bermanfaat, maka hal itu pertanda dan bukti bahwa keimanannya belum benar.

Hasan Al-Bashri berkata, “Tanda bahwa Allah berpaling dari hamba-Nya adalah jika seorang hamba menyibukkan dirinya dengan perkara-perkara yang tidak mendatangkan manfaat.”

5. Perkara yang bermanfaat dan tidak bermanfaat

Perkara yang mendatangkan manfaat bagi manusia adalah perkara-perkara yang berkaitan dengan kebutuhan manusia yang paling mendasar, meliputi; sandang, pangan dan papan. Juga perkara yang berhubungan dengan keselamatan manusia baik di dunia maupun di akhirat. Di luar perkara tersebut, maka tergolong perkara yang tidak mendatangkan manfaat.

Baca Juga:  Pentingnya Adab dan Penerapannya Dalam Kehidupan

Dapat disimpulkan, bahwa perkara yang tidak bermanfaat adalah berbagai keinginan yang melebihi kebutuhan mendasar. Seperti menumpuk harta dan kenikmatan, gila kedudukan dan kehormatan. Termasuk perkara yang tidak bermanfaat adalah sesuatu yang pada dasarnya dibolehkan, namun tidak membawa manfaat yang berarti bagi manusia, baik di dunia maupun di akhirat. Sebagai contoh, permainan, gurauan dan berbagai masalah yang mengurangi kewibawaan dan tidak membawa manfaat. Maka setiap muslim lebih baik meninggalkannya, karena perkara tersebut dapat menyia-nyiakan waktu dan kelak akan diminta pertanggung jawabkan.

6. Seorang muslim seharusnya menyibukkan diri dengan berbagai masalah yang bernilai

Hendaklah seorang muslim senantiasa menyibukkan diri dengan berbagai hal yang bernilai positif dan tidak disibukkan dengan masalah-masalah yang tidak berarti. Karena setiap apa yang dikerjakan akan berpengaruh pada kehidupannya.

7. Seorang muslim hendaknya senantiasa mencucikan jiwa

Mencucikan jiwa dapat dilakukan dengan cara menjauhi semua masalah yang tidak bermanfaat, dengan terus mengharap Ridho Allah SWT agar senantiasa melindungi diri kita dari berbagai macam kejahatan yang datang dari berbagai arah.

Sebagai seorang muslim, hendaknya kita meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat. Namun sebaliknya, harus membiasakan dan menyibukkan diri dengan melakukan berbagai hal yang bermanfaat sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, agar kehidupan dunia dan akhirat terjamin oleh Allah SWT. Wallahu a’lamu bisshowab.

Referensi:

  • Sunan At-Tirmidzi, Abwabuz Zuhdi, Bab Ma Ja-a Fi Man Takallama Fi Ma La Ya’nihi. Hadist nomor 2318 dan 2319.
  • Al-Bugha, Musthafa Dieb. 2003. Menyelami Makna 40 Hadist Rasulullah SAW: Syarah Kitab Arba’in An-Nawawiyah, Jakarta: Al-I’thishom.

Oleh: Nur Khulailatul Hurriyah

Leave a Reply